Peringatan hari bumi internasional yang jatuh pada tanggal 22 April setiap tahun diperuntukkan untuk meningkatkan kesadaran manusia terhadap bumi sebagai planet tempat bermukim. Pertama kali dicanangkan oleh senator Amerika serikat, Gaylord Nelson pada tahun 1970. Saat ini Hari Bumi diperingati oleh 175 negara dan secara global telah dikoordinasi oleh jaringan Hari Bumi atau Earth Day Network.

Di Indonesia sendiri, peringatan Hari Bumi digelar dengan ragam upaya, seperti penanaman pohon, kampanye lingkungan, atau program literasi pemerintah. Tujuanya untuk menstimulus pemahaman akan pentingnya menjaga dan melestarikan bumi yang sedang tidak baik-baik saja.

Akar dari kerusakan bumi tak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja. Perubahan iklim, lapisan ozon yang semakin tipis, longsor, banjir,  tsunami, dan kekeringan merupakan permasalahan kompleks yang dihadapi manusia saat ini. Hal ini didukung oleh maraknya  eksploitasi sumber daya alam yang  bertebaran dimana-mana, pertambangan, korporat industri, dan perubahan fungsi lahan. Hal ini menyebabkan kesehatan dan keberlangsungan makhluk hidup harus dibayar mahal. Bencana kemanusiaan pun tak pelaknya bukan hanya di sebabkan oleh perubahan siklus alam melainkan ulah kita sendiri.

Maraknya kampanye-kampanye penanaman pohon demi anak cuci kita, bagi penulis merupakan paradoks kebijakan itu sendiri. Di sisi lain memang betul adanya dengan menanam satu pohon akan menghidupkan tiga manusia, tapi di sisi lain kehancuran  hutan terjadi di mana-mana. Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia,  sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data kementrian kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah di tebang.

Memperingati hari bumi tentunya memberikan implikasi dan euforia tersendiri bagi sebagian kalangan massyarakat, khususnya komunitas-komunitas literasi lingkungan hidup. Ada yang  berliterasi lewat media dan ada  pula memperingatinya dengan mendaki gunung secara masif.

Perkembangan zaman di era digitalisasi khususnya media-media mainstreem atau di media sosial dengan tagar eksplore ,visit, dan postingan-postingan keindahan tempat secara tidak sadar mengundang orang untuk berkunjung secara masif dan tiba-tiba sporadis.  Hal ini  menjadi penanda pengrusakan  lingkungan  hari ini (tinjau pegunungan Sul-sel)  dan tempat wisata. Contohnya di Sulawesi Selatan, Kawasan Gunung Bawakaraeng, Bulu Saraung (Kab. Pangkep), atau Bulu sorongan (Kab.Pangkep). Gunung (cari tahu fungsi gunung secara mendalam) yang notabene menjadi tempat perenungan, mencari ilmu pengetahuan, kini berubah sebagai pasar. Kisruh dan gaduh ketika malam tiba dan masih banyak kelakuan lainnya yang aneh-aneh. Nilai, etika, dan spritual pada tempat tersebut menjadi prioritas kedua, yang pertama ialah kenarsisisan semata (Baca tentang Narsisme).

Percepatan arus informasi membentuk pola fikir kita secara tidak sadar.  Hal ini tidak diikuti dengan tabayyun informasi, sebelum membagikan informasi. Di balik citra iklan  produk makanan, minuman, pencuci muka, parfum oleh media sosial dan media konvensional, memberikan efek yang besar pada pola konsumtif masyarakat khusunya dalam rumah tangga. Akibatnya ekspansi terhadap hutan tropis Indonesia tidak terkendali.  Hutan tergantikan dengan lahan perkebunan kelapa sawit yang merupakan tanaman penyumbang minyak nabati terbesar dan perekenomian negara,  serta lebih jauh lagi berimplikasi terhadap kepunahan keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan hujan tropis. Masyarakat yang notabene bermukim di sekitaran kelapa sawit mengalami perubahan ruang dan pergeseran nilai.

Fenomena-fenomena kerusakan bumi yang terjadi bukan semata-mata karena perilaku dan ulah kita melainkan cara kita memandang. Hari ini yang terjadi ialah bumi hanya dilihat sebagai objek, hanya bernilai ekonomis semata, tak lagi dipandang sebagai hubungan subjek-objek yang bernilai estetika dan spritual. Dalam perspektif ekologi dalam, dalam teori Sistemnya mengatakan bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan bukan sesuatu yang terpisah melainkan satu kesatuan utuh yang saling tersinkronkan.

Teori Sistem juga melihat bahwa lingkungan itu dibentuk oleh sistem-sistem yang terbagi-bagi dan saling berhubungan satu sama lain yang bersifat totalitas.Totalitas itu jauh lebih besar dari bagian-bagian sistemik itu. Seperti kata yang merupakan bagian dari kalimat, dan kalimat itu merupakan sistem dari rangkaian kata-kata tersebut.

Teori Sistem ini bertolak belakang dengan paham individualisme yang marak di dunia Barat beberapa tahun silam sebelum demokrasi , karena kita tidak melihat bagian-bagiannya saja, tetapi dalam totalitas kesistemannya. Teori kedua yang kemudian menjadi dasar pemahaman Deep Ecology, adalah Hipotesis Gaia.  Hipotesis Gaia sudah marak ditemukan di masyarakat tradisional.

Hipotesisi Gaia memandang bahwa antara lingkungan dan mahluk hidup yang menghuni lingkungan merupakan bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Makhluk hidup itu adalah bagian dari lingkungan, begitupun lingkungan adalah bagian dari mahluk hidup. Perbedaan dari Teori Sistem, Teori Sistem melihat hubungan dalam totalitas kalaupun berbeda-beda, sedangkan Hipotesis Gaia melihat hal itu sebagai bagian yang saling berkaitan. Lingkungan adalah bagian dari makhluk hidup, sehinggan dapat dilihat juga lingkungan itu adalah makhluk hidup, begitupun sebaliknya.

Pada dasarnya kedua teori tersebut memberikan pandangan yang lain kepada kita bahwa tidak ada lagi keterpisahan antara manusia dan lingkungan. Manusia ialah entitas yang tak pernah lepas dari inang kedirianya dan bumi bukankah objek kepuasan semata tetapi lebih dalam dari pada itu. Bukankah di dalam tubuh kita mengandung unsur air, udara, api dan tanah? Lantas mengapa kita masih memposisikan diri sebagai hero? Apakah ada hak untuk itu?

Pagelaran Hari Bumi tak cukup dengan satu hari saja. Bukan soal memperingati atau merayakannya tetapi apa yang kita perbuat untuk bumi ini. Melalui hal kecil seperti menulis sekiranya salah satu  gerak membumi, dalam membantu  kita menyampaikan pandangan, ide dan gagasan.  Bukan bermaksud untuk menggurui tetapi lebih merupakan tanggung jawab untuk mendirikan ilmu.

” Jika aku adalah kamu mengapa kamu mengaku”

“ Dan jika kamu adalah aku mengapa kita mendia”

“ Sebab, aku, kamu, kita sama dengan mesa (satu)”

SELAMAT MEMBUMI | Muh. Haeril