Makassar, Baruga – Forum Komunikasi Pencinta Alam Unhas dan Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unhas mengadakan diskusi interaktif mengenai “Kerusakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng dan Refleksi Gerakan Mahasiswa di Selatan Sulawesi”. Diskusi ini bertempat di Pelataran Baruga A. P. Pettarani Universitas Hasanuddin pada Rabu, 25 April 2018.

Moderator, Wilda Yanti Salam, membuka diskusi dengan pembahasan mengenai urgensi diadakannya kegiatan ini. Sebagai pengantar diskusi, tiga pemantik memaparkan masing-masing pandangannya dari sudut pandang yang berbeda. Pengantar pertama mengenai kerusakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng oleh Fajar (Mahasiswa Departemen Sosiologi FISIP UH). Dilanjutkan dengan pembahasan mengenai Mahasiswa Pencinta Alam sebagai wadah pergerakan oleh Muh. Akbar Alamsyah (Mahasiswa Departemen Antropologi FISIP UH). Terakhir, Titania Ramadhani, Mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi FEB UH, memaparkan sejarah pergerakan mahasiswa.

Dalam pengantar diskusi, salah satu pemantik Muh. Akbar Alamsyah, memaparkan bahwa perlu upaya untuk menyosialisasikan kerusakan yang terjadi di Gunung Bulu’ Bawakaraeng dari berbagai perspektif ilmu. Akbar juga menyoalkan hukum pengelolaan gunung berjuluk butta toa ini. “Idealnya PBB dan UNESCO menjadikan Gunung Bulu’ Bawakaraeng sebagai lanskap pendidikan dan kebudayaan, bukan sebagai taman nasional yang melupakan adat yang ada dan tidak mementingkan komunitas adat disekitar” tambahnya dalam pengantar tersebut.

Diskusi ini diselenggarakan sebagai bentuk refleksi atas peran pergerakan mahasiswa terhadap kerusakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng. Disamping itu forum yang dihadiri oleh berbagai kalangan mahasiswa ini berusaha untuk menegaskan perjuangan perlindungan Gunung Bulu’ Bawakaraeng yang harus menjadi tanggung jawab semua kalangan mahasiswa. Bukan hanya pihak-pihak tertentu seperti kalangan Pencinta Alam.

Masih dalam diskusi, Fajar memaparkan bahwa isu strategis terkait kerusakan Gunung Bulu’ Bawakareng hanya dipandang sebelah mata, padahal kondisi kerusakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng telah mencapai titik kritis. Mengingat fungsi gunung sebagai sumber kehidupan, harusnya kita semua tergerak untuk melakukan sesuatu demi terlindunginya Gunung Bulu’ Bawakaraeng dari berbagai bentuk aktifitas yang dapat merusak Gunung Bulu’ Bawakaraeng.

Salah satu peserta forum interaksi, Aslam Azis, merasa bahwa mahasiswa harus mampu melihat kondisi Gunung Bulu’ Bawakaraeng sebagai sebuah masalah. Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membuat sosialisasi atau forum yang membicarakan upaya nyata yang dilakukan untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Hingga membuat petisi, yang ditandatangani forum Pencinta Alam dan Tokoh Adat dan orang-orang yang peduli lingkungan.

Di akhir diskusi, moderator menutup diskusi dengan undangan untuk ikut berpartisipasi dalam pergerakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng dan mengajak setiap pihak untuk ikut pertemuan untuk menandatangani petisi perlindungan Gunung Bulu’ Bawakaraeng yang akan diadakan di Unhas dalam waktu dekat ini. (BARUGA/HA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *