Makassar, Baruga – Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan pemutaran dan diskusi film Ibu (An Extraordinary Mother), bertempat di Aula Prof. Syukur Abdullah pada Rabu, 25 April 2018.

Film Ibu (An Extraordinary Mother) merupakan film dokumenter yang disutradarai oleh Patar Simatupang yang juga turut hadir dalam pemutaran yang merupakan rangkaian dari tur pemutaran film yang sebelumnya diadakan di kota Padang dan Bali.

Film Ibu yang di produksi selama kurang lebih satu setengah tahun ini berhasil masuk dalam nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2017 untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.

Setelah film yang berdurasi 73 menit selesai kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama sutradara film tersebut, Patar Simatupang. Patar menjelaskan tentang latar belakang pembuatan film ini, yaitu saat dia tidak sengaja bertemu dengan Ibu Sari (tokoh utama film) yang bekerja di dekat kantornya.

“Pada awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan mengenai ibu yang kuat, tetapi ketika mengetahui kondisi ibu Sari yang hamil, saya langsung berpikir untuk membuat film yang panjang,” ungkap Patar.

Lestari Rahmadani, salah satu peserta diskusi film ini mengatakan bahwa Filmnya bagus dan ia sangat tersentuh dengan filmnya. Film ini mudah untuk menyentuh penonton karena hal-hal sederhana yang dilakukan Ibu Sari terhadap anaknya, seperti menyisir rambut Sara (anak Ibu Sari) setelah mandi, menemaninya ke kamar mandi di tengah-tengah waktu kerjanya, memegang tangan anaknya sepanjang perjalanan, atau merangkul Sara di atas angkot, hal- hal sederhana itu pernah dilalui sebagian besar dari penonton sehingga penonton merasa seperti dibawa ke dalam cerita tersebut.

Tidak hanya menggambarkan sosok kuat seorang wanita, film ini juga mengandung berbagai kritik sosial seperti masalah pelayanan kesehatan, perayaan hari Kartini, dan penggambaran laki-laki tidak bertanggung jawab dari suami Ibu Sari.

Patar berharap agar film ini dapat menyadarkan masyarakat umum mengenai pelayanan untuk ibu hamil dapat dilakukan dengan segera dan untuk filmmaker agar lebih peka dengan keadaan sekitar. (BARUGA/DLS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *