Foto: Dokumentasi Dikdas | Ilustrasi oleh: Gradient

 

Di tengah perjalanan menuju rumah dari sebuah tempat belajar Ekologi, saya kaget melihat media sosial beberapa teman yang membagikan sebuah ‘kebodohan’ atau dalam hal ini saya anggap sebagai ‘fitnah’ terhadap kata “ekologis” yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita tercinta. Sebuah obituarium!

Sebelum lanjut, saya ingin membagi sedikit pengalaman mengenai tempat saya belajar tentang Ekologi, Lengkese. Lengkese merupakan sebuah perkampungan di kaki Gunung Bulu’ Bawakaraeng. Gunung yang kini mengalami kritis secara fisik dan kedudukannya sebagai tempat belajar. Di Lengkese saya belajar praktik dan laku-laku ekologi yang dilakukan secara ‘benar’ oleh masyarakat. Misalnya, dalam memperlakukan padi dengan hati-hati, penuh kesopanan bahkan penuh kasih sayang. Hal menarik adalah ketika padi hendak ditanam, perempuanlah yang bertugas menanam. Padi yang semakin meninggi ini akan selalu merendah, dengan segala manfaatnya untuk keberlangsungan hidup dan perekonomian manusia. Laku itu kita kenal sebagai laku ekologi-s yang di mana telah difitnah oleh KBBI atau yang mengubah makna asli kata tersebut.

Kembali menuju bahasan, yaitu ekologi dan ekologi-s. Secara padanan huruf hanya berbeda satu huruf, yaitu “s’’. Tapi penambahan satu huruf itu bukan tanpa alasan dan tidak akan pernah mengkhianati makna sebenarnya. Mari kita bahas secara awam apa itu dan bagaimana itu ekologi. Secara etimologi, ekologi berasal dari Bahasa Yunani yaitu ‘oikos’ (rumah tempat hidup) dan ‘logos’ (ilmu), dalam hal ini bermakna sebuah keterhubungan (secara fisik dan transendental) antara manusia dengan sekitarnya (lingkungan) atau hubungan keterkaitan antara sesama makhluk Tuhan. Perlu juga diketahui bahwa etimologi adalah ilmu untuk menemukan makna kata berdasarkan asal-usul atau hal ikhwal kata tersebut.

Konsep ekologi sebagai sebuah etika berkehidupan, memandang bahwa manusia dengan segala hal yang berada di sekitarnya merupakan sebuah kesatuan utuh yang saling membangun kesadaran akan pentingnya hidup bersesama. Konsep inilah kemudian yang termanifestasi dalam gerak-gerak yang kita sebut sebagai gerak (ekologi-s). Huruf “s” di sini saya pahami bahwa gerak-gerak ekologi dilakukan secara kolektif karena merupakan kesadaran bersama sebagai suatu sistem kehidupan atau dalam istilah seorang pemikir ekologi yaitu Fritjof Capra sebagai “Jaring-jaring kehidupan”.
Berdasarkan KBBI kita tercinta, eko.lo.gis/ekologis (bersifat ekologi): gerakan yang bermakna – merupakan kendala bagi laju pertumbuhan ekonomi. Kemudian mari kita tengok arti dan makna kata ekologi dalam KBBI; eko.lo.gi/ekologi/: ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya).
Mari membahasnya, pertama dari aspek logika kata dan makna keduanya. Ekologi merupakan konsep dan ekologi-s merupakan gerak-gerak ekologi. Jadi ekologi-s akar katanya adalah Ekologi. Daun dan batang tak akan ingkar pada akarnya kecuali ada yang ‘memfitnahnya’. Dalam konteks kata ekologi-s yang setiba-tibanya menjauh dari akar kata dan berakhir pada dentuman negatif, atau dalam hal ini berkontradiksi dengan makna dari akar katanya. Dalam hal ini ekologi-s menjadi sebuah kata yang berlawanan dengan konsep ekologi.
Hal ini membuat kita bertanya, apakah praktik-praktik ekologi-s kini tidak ada hubungannya dengan konsepnya sebagai suatu dasar dan landasan berfikir? Ataukah hal ini disebabkan oleh logika yang mengubah hal ini, tengah mengalami pergulatan batin dan kebingungan menemukan akalnya? Konsep-konsep ekologi meniscayakan terjadinya gerak-gerak yang kita sebut ekologi-s. Namun KBBI menghadirkan sebuah kontradiksi dalam dua kata yang memiliki akar makna yang sama. Saya kira jika akal saya memiliki tangan, ia akan memberikan tepukan tapi tak menimbulkan bunyi tatkala melihat KBBI dan orang dibaliknya bekerja.

Kemudian dalam judul, saya tuliskan kata “fitnah” karena masyarakat yang saya temui di Lengkese serta teman-teman yang berpandangan dan melakukan gerak-gerak ekologi kini tengah difitnah oleh KBBI dan siapapun yang bekerja di baliknya. Saya secara pribadi “mendidih” akibat fitnah yang secara tidak langsung mengatakan bahwa konsep ekologi yang kemudian menjadi gerak keseharian dianggap sebagai kendala bagi laju pertumbuhan ekonomi.
Pertanyaannya, apakah dengan merawat pepohonan, membela hak-hak gunung, melindungi sesama makhluk Tuhan dengan prinsip-prinsip yang ditawarkan, Ekologi menjadi penghalang bagi pertumbuhan perekonomian? Jika iya, berarti kalian tengah melakukan “fitnah” terhadap siapapun yang berlaku ekologi-s sesuai dengan akar maknanya. Dan dengan hormat berhentilah menggunakan sumber daya alam jika itu merupakan penghambat bagi pertumbuhan ekonomi. Apa yang menunjang perekonomian tentu saja berasal dari sumber daya alam dan manusia-manusia yang tengah mesra membangun kesadaran agar dapat saling memberi dan menerima manfaat. Sejak kapan tingkah laku memperbaiki, melindungi dan menjaga menjadi penghambat bagi pertumbuhan perekonomian?

Untuk siapapun yang bekerja dibalik KBBI, fitnah ini begitu kejam. Kalian telah membunuh makna! Entah apakah dibalik semua ini ada kepentingan-kepentingan atas hegemoni penguasa ataukah demi menghadiahkan kehidupan yang rakus dan banal kepada para manusia yang akalnya tengah bersembunyi.

Jika beberapa hari lalu ada seorang mahasiswa yang memberikan kartu kuning kepada seorang penguasa, maka jika meniru, saya tidak akan mengeluarkan kartu kuning ataupun merah, melainkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik saya dan mengembalikannya kepada sang penguasa tersebut. Ketahuilah, makna bukan sekedar makna, ia menyatu dalam yang memaknainya. Jauh dari materil, keterhubungan secara transendenlah yang membuat saya ingin menghentikan fitnah ini dan membela sang makna. Teringat sebuah kata dari salah seorang warga di Lengkese sana, “Belajarlah menamam, agar kau paham bagaimana cara hidup di bumi”.

Akhir kata, tulisan ini berasal dari tangan dan pikiran seorang awam, ditulis dengan penuh rasa sedih. Namun saya tidak akan meminta maaf jika pihak yang bertanggung jawab tersinggung dan tersipu malu, karena ini dengan senagaja agar dapat menyadarkan kalian yang tengah hilang kesadaran. Kemudian untuk seluruh teman yang memiliki pandangan dan merasa di-fitnah, saya mengundang untuk melengkapi tulisan yang terbatas ini. Karena saya percaya, teman-teman yang telah membaca ini memiliki pengetahuan yang lebih baik dari saya. Entah menyangkut aspek sejarah terkait perubahan makna yang semena-mena atau ungkapan kegelisahan terhadap hal ini. Untuk itu, semakin banyak pembelaan atas makna ekologi dan ekologi-s akan membantu kita semua dan semesta.

Kita semua saling terhubung karena aku dan kau adalah semesta. (Yudhi Kurniadhi Syam)