Logika berasal dari kata logos yang artinya perkataan atau sabda. Dalam hidup, manusia seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan. Terkadang pilihan sederhana memiliki dampak yang besar. Untuk menentukan pilihan itu, maka manusia dibenahi akal dan pikiran. Akal itulah yang membedakan manusia dengan hewan yang hanya memiliki insting.

Logika dapat pula diartikan sebagai berpikir secara benar. Ibarat sebuah jalan, maka logika merupakan rambu-rambu untuk medapatkan keamanan dalam menelusuri jalan tersebut. Rambu-rambu dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari kesesatan. Logika pun merupakan sebuah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah.

Karena mempelajari tentang hukum-hukum dan rumus-rumus berpikir, maka urusan benar-salah dalam logika menjadi masalah pokok dalam logika. Dengan menggunakan kaidah logika, maka manusia dimaksudkan untuk menyelidiki, menyaring, dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar dengan usaha untuk mencari kebenaran.

Cara mendapat kebenaran dari berpikir secara logika pun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu induksi dan deduksi. Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual atau khusus sedangkan deduksi merupakan cara berpikir dari pernyataan yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.

Lalu bagaimana mengidentifikasi suatu kebanaran? Suatu kebenaran ditetapkan karena adanya suatu kesalahan. Tolak ukur suatu kesalahan pun berasal dari pengetahuan, nilai-nilai, kebudayaan, dan sebagainya. Ada beberapa teori yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah kebenaran, mulai dari teori kebenaran sebagai persesuaian, sebagai keteguhan, teori pragmatis, dan teori performative.

Untuk memahami sesuatu pun sangat berkaitan dengan 4 hal yaitu, identitas, kausalitas, kontradiksi, dan keselarasan. Pemahaman dengan landasan yang kuat akan memudahkan seseorang untuk mengetahui yang salah dan yang benar.