Dalam materi Pengantar Ilmu Filsafat yang difasilitatori oleh Jawahirus Saniah diawali dengan pemaparan definisi dari filsafat itu sendiri. Ada beberapa definisi filsafat yang diungkapkan oleh beberapa tokoh filsafat, misalnya dari Plato (427-347 SM) yang mengatakan Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakekat. Sementara itu, menurut Aristoteles (384-322 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi logika, fisika, metafisika, dan pengetahuan praktis. Ada pula definisi dari Betrand Russel (1967 ), yang mengatakan filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kelas ini pula, fasilitator juga menguraikan ciri-ciri dan kriteria umum filsafat, yang menjadi pembeda antara filsafat dengan ilmu-ilmu lainnya. Setidaknya, ada 3 kriteria utama, yaitu:

  1. Universal (menyeluruh), yaitu pemikiran yang luas dan tidak aspek tertentu saja.
  2. Radikal (mendasar) yaitu pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental dan essensial.
  3. Sistematis, yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut dan logis meskipun spekulatif.

Sementara itu, ada pula tambahan cirinya yaitu, 

  1. Deskriptif, yaitu suatu uraian yang terperinci tentang mengapa sesuatu itu.
  2. Kritis, Yaitu mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat) dan tidak menerima begitu saja apa yang terlihat sepintas.
  3. Analisis, yaitu mengulas dan mengkaji secara rinci dan menyeluruh sesuatu
  4. Evaluatif, yaitu maksudnya upaya sungguh-sungguh untuk menilai dan menyikapi segala persoalan yang dihadapi manusia.
  5. Spekulatif, yaitu upaya akal budi manusia yang brsifat perekaan dan tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah.

Menurut Jawahirus Saniah, sebenarnya keberadaan filasafat ada dimana-mana, filsafat sangat dekat dengan kehidupan kita baik melalui manusia dan lingkungan. Mempelajari Filsafat sejatinya akan membawa kita pada pemahaman, sementara pemahaman membawa kita pada tindakan  yang lebih layak.

Jika kita jeli, keberadaan filsafat sebenarnya sangat dekat dengan hal-hal yang kita sukai, seperti melalui film dan fotografi, pemaknaan dalam film, bahkan hal-hal seperti estetika dan keindahan. Karya sastra dan lagu. Ada banyak sekali karya seni yang mengadopsi nilai-nilai filsafat.

Maka dari itu, berfilsafat sebenarnya sangat menarik dan penting. Beberapa pendapat tokoh-tokoh berikut mengungkapkan “kenapa kita harus filsafat?”. Dimulai dari Saras dewi, Dosen Filsafat UI yang menggeluti filsafat karena resah akan teluk benoa di kampunganya. Soren Kierkegaard, filsuf paling sadboy, dari kesengsaran keluarga dan nestapa cinta yang ia jalani kemudian lahirlah pemikiran: eksistensialis. Sementara itu, Simone de Beauvoir, ia “marah” dengan masyarakat patriarkal membuat de beauvior melawan dan menjadi patron dari feminism gelombang kedua.

Dalam kelas ini pula, fasilitator mengajak teman-teman untuk tidak alergi terhadap filsafat. Mempelajari filsafat pada hakekatnya akan mengantarkan kita tidak semata-mata pada kebenaran, tetapi lebih kepada kebijaksanaan dalam melihat berbagai realitas dalam kehidupan sehari-hari.