Dalam kelas fonomenologi dijelaskan bahwa fonomenologi adalah studi tentang fenomena, atau segala sesuatu yang tampak bagi kita dalam pengalaman subjektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita.

Kajian fenomenologi ini, katanya berawal dari “Alegori Gua” milik Plato. Plato, si mpuh filsafat, menyatakan bahwa manusia yang “belum tercerahkan” secara keliru menganggap bayangan di dinding gua sebagai benda yang sejati. Padahal, menurut Plato, ketika kita hidup di dunai ini, apapun yang kita lihat sebenarnya hanya representasi dari dunia yang sejati. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan mereka ini keliru menganggap fenomena sebagai sesuatu yag sebenarnya.

Untuk menjelaskan “Alegori Gua” milik Plato ini, Kak Yudi – fasilitator dalam kelas fenomenologi, memberikan contoh sebuah tangan yang merefleksikan bayangan mirip kelinci di dinding. Seperti hal yang biasa kita lakukan ketika listrik sedang padam atau saat cahaya lampu sedang redup. Dalam hal ini, realitas atau hakikat adalah tangan. Dan penampakan, atau pengalaman kita dari realitas (fenomena) adalah bayangan yang membentuk seperti kelinci di tembok.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa ada perbedaan antara sesuatu apa adanya dengan sesuatu yang kita alami. Tentu hal ini juga dipengaruhi oleh subjektivitas seseorang. Misalnya tangan tersebut, dengan hakikat yang sama, bisa menghasilkan berbagai pemikiran. Bagi orang tertentu mungkin berpikir bahwa refleksi tangan tersebut membentuk bayangan mirip kelinci, tapi bagi sebagian orang yang lain bisa juga melihatnya sebagai bayangan mirip kancil. Hal itu tergantung pada bagaimana kesadaran kita melahirkan pikiran terhadap sesuatu yang nampak di sekitar kita.

Fahruddin Faiz mengatakan, penampakan itu bukan hakekat, yang sejati adalah hasil dialektika antara yang penampakan dengan kondisi psikologis seseorang. Plato sendiri menyarankan untuk selalu mencari hakekat yang sebenarnya.